22 Agustus 2026Eline Tiva

Aplikasi Meta Kumpulkan Data Pengguna Tiga Kali Lebih Banyak Dibanding Apple atau Microsoft, Ungkap Studi Baru

Analisis Surfshark pada 18 Agustus 2026 terhadap 171 aplikasi di App Store menemukan aplikasi Meta rata-rata mencantumkan 25 dari 35 jenis data, lebih dari tiga kali lipat dibanding Apple (tujuh) dan Microsoft (delapan). Berikut yang sebenarnya diukur studi ini, mengapa Google tetap mendominasi jumlah aplikasi paling boros data, dan apa artinya bagi UMKM yang menjalankan toko, iklan, dan chat pelanggan lewat platform yang sama.

Ilustrasi konseptual flat berupa siluet smartphone dengan ikon kecil lokasi, belanja, chat, dan penelusuran mengalir ke atas menuju bentuk awan besar, mewakili skala pengumpulan data aplikasi

Aplikasi Meta meminta izin untuk mengumpulkan rata-rata 25 dari 35 jenis data yang mungkin dicantumkan di App Store Apple. Aplikasi Apple sendiri rata-rata mencantumkan tujuh jenis. Microsoft mencantumkan delapan. Selisih lebih dari tiga kali lipat itu berasal dari studi baru perusahaan VPN Surfshark yang terbit pada 18 Agustus 2026, lalu diberitakan Euronews, The Register, dan sejumlah media teknologi lain dalam minggu yang sama.

Bagi pemilik UMKM, ini bukan terutama cerita tentang reputasi Meta. Ini cerita tentang perangkat yang sama untuk membalas chat pelanggan, mengunggah foto produk, dan mengecek apakah iklan sudah menghabiskan anggaran. Facebook, Messenger, WhatsApp Business, Instagram, dan Meta Ads Manager berada di ekosistem Meta. Google Maps, Gmail, dan Google Ads juga hidup di ponsel yang sama. Memahami apa yang masing-masing aplikasi nyatakan dapat dikumpulkan hanya perlu beberapa menit, tetapi sebagian besar pemilik usaha tidak pernah memeriksanya.

๐Ÿ“Š Apa yang Sebenarnya Diukur Surfshark

Surfshark menelaah 171 aplikasi di Apple App Store dari lima perusahaan: Google (44 aplikasi), Apple (41), Microsoft (40), Amazon (34), dan Meta (12). Untuk setiap aplikasi, peneliti membaca label privasi yang dikirim pengembang ke Apple. Label itu menyebut kategori dari 35 jenis data yang mungkin dikumpulkan, misalnya lokasi presisi, riwayat penelusuran, riwayat pembelian, kontak, dan data kesehatan. Apple mewajibkan App Privacy Details pada halaman aplikasi sejak 2020. Bahan mentah penelitian ini sudah terlihat publik; Surfshark mengumpulkan, menghitung, lalu membandingkan seluruh label tersebut per perusahaan dan kategori aplikasi.

Diagram konseptual menampilkan lima baris ikon aplikasi generik, satu baris jelas menyeret lebih banyak titik data dibanding empat lainnya
Ilustrasi. Dari lima perusahaan dan 171 aplikasi, satu pengembang jelas mencantumkan lebih banyak jenis data dibanding yang lain.Ilustrasi orisinal Eline untuk 1garis

Dua belas aplikasi Meta rata-rata mencantumkan 25 jenis data. Empat puluh empat aplikasi Google rata-rata mencantumkan 17. Amazon 12, Microsoft 8, dan Apple 7. Tujuh aplikasi individual dengan kategori terbanyak dalam studi ini semuanya produk Meta: Meta AI berada di puncak dengan 33, sedangkan Meta Horizon, Meta Business Suite, Meta Ads Manager, Messenger, Forum, dan Facebook masing-masing mencantumkan 32.

Ada detail metode yang penting dan tidak selalu masuk judul berita. Angka ini menggambarkan apa yang pengembang nyatakan dapat dikumpulkan melalui kuesioner Apple, bukan lalu lintas jaringan yang diamati secara independen oleh Surfshark. Satu kategori yang tercantum tidak berarti data setiap pengguna di kategori itu dikirim setiap kali aplikasi dibuka. Angka itu juga tidak menunjukkan berapa lama data disimpan atau seberapa sering diproses. Namun, perbandingan tetap berguna karena kelima perusahaan mengisi formulir yang sama. Studi ini mengukur cakupan pengumpulan yang diungkapkan, bukan volume byte atau rekaman pengawasan aktual.

๐Ÿ” Google Punya Aplikasi Terbanyak di Peringkat, Bukan Rata-rata Tertinggi

Rata-rata Meta menjadi angka utama, tetapi Google tampil berbeda dalam kumpulan data yang sama. Dari 40 aplikasi individual dengan pengumpulan paling luas, 29 milik Google, sembilan milik Meta, dan dua milik Amazon. Dua puluh sembilan aplikasi Google itu masing-masing mencantumkan 18 sampai 26 jenis data. Rentangnya tidak setinggi entri Meta yang paling ekstrem, tetapi tersebar di lebih banyak produk.

Penyebab kedua perusahaan menghasilkan pola berbeda adalah ukuran dan bentuk portofolio. Meta hanya memiliki 12 aplikasi dalam sampel, terkonsentrasi pada jejaring sosial, bisnis, dan produktivitas. Rata-ratanya tinggi karena pengumpulan luas tampak konsisten di kumpulan aplikasi yang kecil dan saling terkait. Google memiliki 44 aplikasi di 12 kategori App Store, dari Foto dan Video sampai Kesehatan dan Kebugaran serta Developer Tools. Google menjadi pengembang dengan pengumpulan paling luas pada enam kategori tersebut walaupun rata-rata seluruh perusahaannya berada di bawah Meta. Google Maps saja mencantumkan 26 kategori, dan menjadi satu-satunya aplikasi dalam kategori Navigasi pada sampel.

Dengan kata lain, isu Meta dalam ukuran ini adalah kedalaman. Isu Google adalah keluasan. Bisnis yang memakai Gmail, Google Maps, Google Ads, Chrome, dan Penelusuran Google berinteraksi dengan lebih banyak aplikasi dari satu perusahaan, walaupun tidak ada satu aplikasi pun yang mencapai 33 kategori seperti Meta AI. Tidak ada pola yang otomatis lebih berisiko untuk setiap keadaan. Dampaknya bergantung pada aplikasi mana yang benar-benar dipasang dan bagaimana pemiliknya mengatur izin setelah pemasangan.

Ilustrasi pemilik usaha kecil di meja kerja toko sederhana memeriksa daftar izin aplikasi generik di laptop
Ilustrasi. Membaca izin yang diungkapkan sebuah aplikasi hanya perlu beberapa menit, tetapi jarang dilakukan bahkan oleh pemilik yang menjalankan seluruh tokonya lewat aplikasi itu.Ilustrasi orisinal Eline untuk 1garis

๐Ÿงพ Jenis Data yang Dicantumkan Setiap Perusahaan

Kelima perusahaan mengumpulkan beberapa data dasar secara hampir universal: ID perangkat, diagnostik crash dan performa, serta log interaksi produk. Data tersebut lazim dipakai untuk menjaga aplikasi tetap berjalan dan menemukan bug. Liputan studi ini tidak menyebut data dasar itu sebagai masalah tersendiri. Perbedaannya muncul setelah lapisan dasar tersebut, dan detail di bawah inilah yang relevan bagi keputusan usaha kecil.

Meta. Semua 12 aplikasi Meta mencantumkan ID perangkat, interaksi produk, data performa, dan crash. Sembilan dari 12 juga mencantumkan lokasi presisi. Surfshark menilai lokasi presisi melampaui kebutuhan fungsi dasar untuk banyak aplikasi tersebut. Tujuh aplikasi mencantumkan riwayat penelusuran, yaitu informasi tentang situs yang dilihat di luar aplikasi. Pada kategori Bisnis, Meta kembali berada paling tinggi dengan rata-rata 25 jenis data, dibanding Google 16, Amazon 12, dan Microsoft 9.

Google. Seluruh 44 aplikasi Google mencantumkan ID perangkat, data diagnostik, dan performa. Banyak di antaranya juga mencantumkan riwayat pencarian, riwayat pembelian, foto atau video, alamat fisik, email, nama, lokasi kasar, dan data crash. Delapan aplikasi Google, termasuk Chrome dan Gemini, juga mencantumkan riwayat penelusuran.

Amazon. Sebelas dari 34 aplikasi Amazon mencantumkan lokasi presisi. Amazon Alexa sendiri mencantumkan 28 jenis data, angka tertinggi untuk aplikasi yang bukan milik Meta. Hanya satu aplikasi Amazon, Amazon Shopper, yang mencantumkan riwayat penelusuran. Pada kategori Bisnis, termasuk Amazon Shipping, Amazon rata-rata mencantumkan 12 jenis data.

Microsoft. Microsoft konsisten berada di posisi paling rendah atau kedua terendah dalam hampir semua kategori yang diperiksa. Pola umum di 40 aplikasinya adalah data crash, ID perangkat, email, nama, diagnostik, interaksi produk, dan ID pengguna. Enam aplikasi Microsoft mencantumkan lokasi presisi, sedangkan dua mencantumkan riwayat penelusuran. Pengecualiannya ada di Graphics & Design, saat Microsoft Designer mencantumkan 12 jenis data dan berada paling tinggi dalam kategori yang sempit itu.

Apple. Apple paling hemat data di hampir setiap kategori penelitian dan memiliki jangkauan kategori terluas, yaitu 15 kategori. Safari menjadi satu-satunya aplikasi Apple dalam sampel yang mencantumkan riwayat penelusuran. Enam aplikasi Apple mencantumkan lokasi presisi. Tiga belas aplikasi Utilities Apple rata-rata hanya mencantumkan enam jenis data, sementara Utilities Google rata-rata 17.

Yang menarik dari lima profil ini bukan sekadar urutan siapa paling banyak atau paling sedikit. Pola tersebut mengikuti model bisnis masing-masing perusahaan. Meta dan Google menghasilkan sebagian besar pendapatan dari iklan bertarget, sehingga data perilaku seperti riwayat penelusuran dan lokasi menjadi bahan baku utama produk mereka. Apple menjual perangkat keras dan sebagian layanan berlangganan, sehingga profil datanya secara struktural lebih ramping. Microsoft berada di tengah, dengan sebagian besar pendapatan dari perangkat lunak perusahaan, bukan iklan konsumen langsung. Memahami perbedaan model bisnis ini membantu menjelaskan kenapa angka-angka ini konsisten dari tahun ke tahun, bukan sekadar kebetulan satu studi.

๐Ÿ’ฌ Mengapa Akun Bisnis Membuat Konteksnya Berbeda

Usaha yang menjalankan toko lewat Meta Business Suite, WhatsApp, dan Ads Manager tidak hanya menyerahkan jenis data yang sama seperti pengguna pribadi yang menggulir feed. Alat bisnis menghubungkan riwayat transaksi, belanja iklan, daftar audiens, dan percakapan pelanggan dengan grafik identitas yang dijelaskan studi ini. Kombinasi itulah yang dipakai sistem iklan untuk membuat audiens serupa dan memperkirakan siapa yang mungkin membeli. Itulah memang fungsi iklan digital. Pertukarannya bukan hal baru bagi pengguna Ads Manager, tetapi studi minggu ini memberi angka yang dapat diperiksa alih-alih dugaan umum bahwa platform pasti melacak segalanya.

Foto ilustrasi orang memegang smartphone menampilkan berbagai ikon aplikasi
Foto ilustrasi. Momen sehari-hari yang sebenarnya dibahas studi ini: aplikasi apa saja di layar ini, dan apa yang disetujui masing-masing untuk dikumpulkan.Foto oleh Julio Lopez via Pexels

Temuan ini tidak berarti usaha kecil perlu menghapus aplikasi tersebut. Facebook, Instagram, WhatsApp Business, dan alat Google masih menjadi tempat sebagian besar pelanggan Indonesia berada. Meninggalkan semuanya dapat menghilangkan jangkauan yang jauh lebih besar daripada manfaat dari menghindari pengumpulan data. Kesimpulan yang realistis bukan "berhenti memakai aplikasi ini". Sikap yang lebih masuk akal adalah mengetahui apa yang dilakukan sebuah alat sebelum menyerahkan akses, bukan baru bertanya saat ada masalah.

๐Ÿ—‚๏ธ Empat Pemeriksaan yang Layak Dilakukan

Periksa izin yang benar-benar aktif pada aplikasi bisnis. Di iPhone, menu Settings memperlihatkan izin Facebook, Messenger, WhatsApp Business, dan aplikasi Google: lokasi, kontak, mikrofon, atau foto. Privacy Dashboard Android menampilkan hal serupa, termasuk kapan izin terakhir dipakai. Banyak pemilik memasang aplikasi sekali, menekan "izinkan" pada seluruh permintaan awal, kemudian tidak pernah melihat daftar itu lagi.

Pisahkan akun pribadi dan akun bisnis bila platform menyediakan cara untuk melakukannya. Meta Business Suite yang terhubung ke halaman Facebook bisnis khusus membantu menjaga data chat pelanggan dan performa iklan terpisah dari daftar kontak dan aktivitas pribadi pemilik. Ini bukan trik di luar aturan. Meta sendiri menyediakan struktur akun bisnis untuk alasan operasional seperti itu.

Matikan lokasi presisi bila aplikasi tidak membutuhkannya. Aplikasi chat untuk menjawab pelanggan tidak perlu koordinat GPS tingkat jalan. Lokasi kasar, atau bahkan tanpa lokasi, biasanya cukup untuk tugas harian toko. Sembilan aplikasi Meta dan delapan aplikasi Google dalam studi ini mencantumkan lokasi presisi sebagai kategori yang mungkin dikumpulkan. Itu tidak berarti setiap akun bisnis harus membiarkannya aktif.

Baca ringkasan privasi alat bisnis dari platform, bukan hanya halaman pemasaran. Meta, Google, dan Amazon menyediakan penjelasan tentang alat bisnis mereka. Pertanyaan yang perlu dicari sederhana: apakah isi percakapan pelanggan masuk ke penargetan iklan, siapa yang dapat mengakses data akun, dan apakah pengusaha dapat menolak penggunaan tertentu.

๐Ÿ›๏ธ Posisi Regulasi di Indonesia dan Luar Negeri

Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi, atau UU PDP, berlaku sejak 2022. Usaha yang memproses data berisiko tinggi dapat diwajibkan menunjuk Data Protection Officer, dan bisnis perlu memperoleh persetujuan yang jelas serta spesifik sebelum mengumpulkan data pribadi untuk tujuan komersial. Liputan Hukumonline sepanjang 2026 juga menyoroti bahwa lembaga pengawas khusus yang disebut UU PDP masih menjadi pekerjaan kelembagaan pemerintah, sementara kewajiban kepatuhan bagi pelaku usaha sudah berlaku. Situasi ini membuat banyak UMKM bingung ketika perlu menerjemahkan istilah hukum ke operasi toko harian.

Jawaban praktisnya tetap jelas: bisnis yang mengumpulkan nama, nomor telepon, alamat, dan detail pesanan pelanggan melalui formulir web, marketplace, atau chat platform sudah memproses data pribadi. Bisnis tersebut perlu mengetahui data apa yang diminta, untuk apa data dipakai, dan berapa lama akan disimpan. Panduan kepatuhan di kawasan ASEAN membedakan data pribadi umum seperti nama dan alamat dari data spesifik seperti kesehatan, biometrik, atau keuangan. Data spesifik membutuhkan perlindungan lebih tinggi, tanpa melihat apakah pengumpulnya perusahaan besar atau toko kecil.

Di luar Indonesia, tekanan regulasi terhadap pengumpulan data berlebihan sudah berjalan lebih lama. Kerangka perlindungan data Uni Eropa mewajibkan organisasi menjelaskan tujuan setiap kategori data yang dikumpulkan. Sejumlah tindakan penegakan terhadap platform besar menghasilkan denda ratusan juta euro dalam beberapa tahun terakhir. Studi Surfshark tidak mengubah aturan Indonesia maupun Eropa. Studi itu membantu memperlihatkan, dalam satu tabel yang konsisten, cakupan yang sudah melekat saat bisnis memakai alat-alat tersebut.

Bagi UMKM yang berjualan lintas negara, misalnya lewat marketplace regional atau iklan yang menjangkau diaspora, perbedaan aturan antarnegara ini juga berarti standar kepatuhan tertinggi biasanya paling aman untuk diikuti. Bila sebuah bisnis mengumpulkan data pelanggan dari Indonesia dan negara ASEAN lain melalui satu formulir pemesanan yang sama, mengikuti standar persetujuan paling ketat di antara yurisdiksi tersebut jauh lebih sederhana daripada mencoba membedakan aturan per negara pada satu sistem yang sama.

๐ŸŒ Pola yang Sudah Dilihat Surfshark Sebelumnya

Ini bukan studi pertama Surfshark tentang pengumpulan data aplikasi. Perusahaan tersebut sebelumnya meneliti browser seluler, memakai kerangka 35 kategori yang sama, dan menemukan Yandex, Microsoft Edge, serta Google Chrome berada pada risiko privasi tertinggi di antara 15 browser populer berdasarkan pengungkapan Play Store. Surfshark juga pernah meneliti chatbot AI. Rata-rata chatbot yang diperiksa mencantumkan 13 dari 35 jenis data. Sekitar 45 persen mengumpulkan lokasi dan hampir 30 persen melakukan pelacakan untuk iklan bertarget atau pembagian dengan broker data. Meta AI juga berada di posisi teratas dalam studi chatbot sebelumnya.

Hasil yang serupa dari kerangka yang sama dalam beberapa studi selama lebih dari setahun tidak membuktikan semua detail tentang perilaku aplikasi setiap hari. Namun, pola tersebut memberi konteks yang lebih kuat daripada satu judul berita. Pembaca yang melihat laporan minggu ini sedang melihat satu bagian dari temuan yang terus muncul, bukan hasil sekali jadi untuk kebutuhan siklus berita.

Ilustrasi konseptual sosok siluet di dalam kartu profil garis besar yang tersusun dari ikon belanja, lokasi, dan kebiasaan penelusuran
Ilustrasi. Digabungkan lintas aplikasi satu perusahaan, titik-titik data kecil membentuk profil yang sangat rinci.Ilustrasi orisinal Eline untuk 1garis

๐Ÿงฎ Tabel Perbandingan yang Perlu Diingat

Angka lebih mudah dipakai daripada paragraf panjang. Berikut ringkasan angka perusahaan dari rata-rata dan jumlah aplikasi yang dipublikasikan Surfshark.

  • Meta: 12 aplikasi, rata-rata 25 dari 35 jenis data, aplikasi tertinggi Meta AI dengan 33.
  • Google: 44 aplikasi, rata-rata 17 dari 35 jenis data, 29 dari 40 aplikasi paling luas dalam studi.
  • Amazon: 34 aplikasi, rata-rata 12 dari 35 jenis data, Alexa tertinggi dengan 28.
  • Microsoft: 40 aplikasi, rata-rata 8 dari 35 jenis data, paling rendah atau kedua paling rendah di hampir seluruh kategori.
  • Apple: 41 aplikasi, rata-rata 7 dari 35 jenis data, rata-rata terendah dalam studi.

Baca daftar ini berdampingan dengan aplikasi yang benar-benar ada di ponsel bisnis Anda, bukan dengan gagasan abstrak tentang Big Tech. Bisnis yang memakai Facebook, Messenger, WhatsApp Business, dan Meta Ads Manager menyentuh empat aplikasi dari perusahaan dengan rata-rata tertinggi. Bisnis yang memakai Gmail, Maps, dan Google Ads menyentuh tiga aplikasi dari perusahaan dengan portofolio jauh lebih luas. Kedua kombinasi bukan otomatis aman atau tidak aman; keduanya memberi bentuk paparan yang berbeda.

๐Ÿ› ๏ธ Audit Praktis 20 Menit untuk Pemilik Usaha

Audit yang realistis tidak membutuhkan konsultan hukum atau aplikasi baru. Mulailah dengan membuka pengaturan ponsel, bukan menu dalam aplikasi, lalu daftar seluruh izin yang dimiliki setiap aplikasi yang penting bagi bisnis. Lima menit cukup untuk melihat aplikasi mana yang memiliki akses lokasi, kontak, mikrofon, kamera, atau perpustakaan foto.

Setelah itu, bandingkan daftar tersebut dengan penggunaan nyata di usaha. Aplikasi kasir mungkin memang membutuhkan kamera untuk memindai barcode. Namun, aplikasi itu tidak selalu membutuhkan lokasi presisi setiap saat bila pesanan dikelola dari satu toko. Aplikasi chat membutuhkan mikrofon hanya bila usaha benar-benar menggunakan pesan suara dengan pelanggan.

Kemudian cabut izin yang tidak sesuai kebutuhan. Catat tanggal perubahan di catatan sederhana. Bukti bahwa usaha pernah memeriksa dan membatasi akses datanya lebih baik daripada tidak pernah melakukan pemeriksaan sama sekali. Terakhir, ulangi pemeriksaan dalam tiga bulan. Pembaruan aplikasi dapat mengubah pengaturan atau meminta izin baru. Pemeriksaan sekali tidak menjamin kondisi akan tetap sama.

Ada satu langkah tambahan yang sering terlewat: memeriksa siapa saja karyawan atau admin yang punya akses ke akun bisnis di platform-platform ini, bukan hanya izin di level aplikasi. Sebuah toko yang memberi akses penuh Meta Business Suite ke beberapa staf lama yang sudah tidak bekerja lagi, misalnya, tetap menyimpan jejak izin tersebut sampai ada yang secara sadar mencabutnya. Audit akun bisnis idealnya mencakup daftar siapa yang masih memiliki akses admin, bukan sekadar aplikasi apa yang terpasang di satu ponsel.

Terakhir, layak dicatat bahwa audit semacam ini bukan pekerjaan sekali seumur hidup. Setiap kali usaha menambah alat baru, entah itu aplikasi kasir, plugin marketplace, atau bot chat otomatis, daftar aplikasi yang perlu diperiksa juga bertambah. Menjadikan pemeriksaan izin sebagai kebiasaan rutin, seperti mengecek stok atau menutup kas harian, jauh lebih realistis daripada berharap mengingatnya sekali dan selesai untuk selamanya.

Penting juga membedakan antara aplikasi yang benar-benar dipakai sehari-hari dan aplikasi yang dipasang sekali lalu dibiarkan menganggur di ponsel. Sebuah aplikasi promosi yang dipasang untuk kampanye tertentu, misalnya, sering tetap memiliki izin lokasi atau kontak walau kampanyenya sudah berakhir berbulan-bulan lalu. Menghapus aplikasi yang tidak lagi dipakai adalah langkah termudah untuk mengurangi jumlah titik data yang tersebar, karena aplikasi yang sudah dihapus tidak lagi mengumpulkan apa pun, terlepas dari izin apa yang pernah diberikan sebelumnya.

Bagi usaha yang mengelola lebih dari satu ponsel atau perangkat, misalnya satu untuk kasir dan satu untuk admin media sosial, ada baiknya menyamakan hasil audit di semua perangkat tersebut, bukan hanya satu. Praktik yang umum terjadi adalah pemilik memeriksa ponsel pribadinya dengan cermat, tetapi lupa bahwa ponsel kasir atau ponsel staf pemasaran juga memuat aplikasi bisnis yang sama dengan izin yang belum tentu identik.

โœ… Yang Perlu Dilakukan UMKM Sekarang

Kesimpulan praktisnya bukan meninggalkan seluruh platform. Kesimpulannya adalah berhenti menganggap "semua orang menggunakannya" sama dengan "aman tanpa pengaturan." Usaha yang meninjau izin aplikasi sekali, memisahkan akun bisnis dari akun pribadi, dan membaca ringkasan privasi alat bisnis sudah melakukan uji tuntas yang sering diabaikan pesaingnya. Jenis data yang dihitung Surfshark sebenarnya sudah diungkapkan dalam label App Store dan menu pengaturan yang jarang dibuka pemilik.

Kesenjangan antara pengungkapan dan kesadaran itulah cerita paling penting minggu ini. Studi ini tidak meminta toko berhenti beriklan di Meta atau berhenti memakai Google Maps. Studi ini memperlihatkan apa yang disetujui ketika aplikasi dipasang dan memberi daftar pemeriksaan yang dapat dilakukan sebelum percakapan pelanggan berikutnya masuk melalui salah satu aplikasi tersebut.

Yang terpenting, temuan ini juga jadi pengingat bahwa kepatuhan privasi bukan hanya urusan hukum yang jauh dari operasional harian. Setiap kali sebuah toko membuka aplikasi kasir, membalas pesan WhatsApp, atau menjadwalkan iklan baru, keputusan kecil soal izin data ikut menentukan seberapa besar jejak digital yang ditinggalkan pelanggannya. Studi Surfshark memberi angka konkret untuk memulai percakapan itu di internal usaha, bukan hanya di ruang rapat regulator.

Bagi UMKM yang belum pernah membaca satu pun label privasi App Store atau Play Store dari aplikasi bisnisnya, minggu ini adalah waktu yang wajar untuk memulai. Bukan karena ada tenggat hukum baru yang mendesak, melainkan karena studi seperti ini jarang muncul dengan angka sekonkret dan sebanding seperti yang disajikan Surfshark. Lima menit memeriksa satu aplikasi, diulang untuk setiap aplikasi penting yang dipakai bisnis, jauh lebih murah daripada menghadapi pertanyaan pelanggan atau regulator di kemudian hari tentang data apa saja yang sebenarnya dikumpulkan toko tersebut.

Sumber: Studi riset Surfshark (18 Agustus 2026); The Register; Euronews dan terjemahan Jerman melalui AOL; The IT Nerd; ulasan kepatuhan UU PDP dari Hukumonline dan Opensoft Asia.

Keep reading